Senin, 07 Februari 2011

Ketidakadilan Para Guru dan Orangtua

Sebagai pendidik Guru dan Orang tua sering melakukan hal yang dianggap tidak adil bagi anak. khususnya dalam hal menerapkan prinsip reward and punishmen (hadiah dan hukuman). reward adalah pemberian hadiah kepada anak apabila anak telah melakukan hal-hal yang baik, sedangkan punishmen adalah pemberian hukuman kepada anak manakala anak telah melakukan hal-hal yang buruk. 

Pemajangan hasil karya anak
Para guru dan Orangtua sering melupakan prinsip yang pertama yaitu pemberian reward, dan ada juga yang tidak tepat dalam mengartikan reward. kebanyakan orangtua dan guru menganggap pemberian reward hanyalah apabila anak melakukan sesuatu yang sempurna, seperti juara I pada kenaikan kelas, sehingga apabila anak tidak mendapat juara pada kenaikan kelas orang tua dan guru menganggap anak itu tidak berhak mendapat reward. dan contoh yang sering terjadi apabila guru memberikan soal kepada anak sebanyak 20 butir soal, kemudian anak menjawab benar 16 dan salah 4, disini para guru dan orangtua kebanyakan hanya melihat kepada kesalahan yang 4 soal dan melupakan prestasi siswa yang telah menjawab 16 soal. sehingga yang terjadi bukanlah pemberian reward (hadiah) malah pemberian punishmen (hukuman). Nah, disinilah yang saya maksud ketidakadilan para guru dan orang tua terhadap anak.

Selanjutnya reward selalu diartikan berupa benda seperti mainan, uang, buku dll. sehingga banyak guru yang sulit memberikan reward kepada siswa karena akan mengeluarkan biaya. akan tetapi kalau sekiranya guru dan orangtua membuka wawasan tentang reward itu maka kejadian seperti di atas mungkin tidak terjadi. reward dapat juga berupa pujian, dan sanjungan serta sikap yang memberikan kesan kepada siswa bahwa seluruh karyanya dihargai oleh guru dan orangtuanya.

hukuman yang tidak relevan
Sebaliknya guru dan orangtua sangat asyik dan suka dalam memberikan punishmen kepada anak, sehingga kesalahan sekecil apa pun guru dan orang tua tidak ketinggalan dalam memberikan hukuman. Contohnya : Siswa yang selalu datang tepat waktu ke sekolah tidak mendapat reward 'apa-apa', akan tetapi ketika anak itu satu hari terlambat langsung dikenakan hukuman. ini disebabkan para orangtua terlalu banyak berharap kepada anak tanpa melihat kenyataan pada diri mereka, bukankah apabila anak itu melakukan kesalahan adalah akibat kegagalan guru dan orangtua dalam mendidik anak? lalu kenapa selalu menyalahkan anak? dan tidak pernah menyalahkan diri sendiri..??

akhirnya, melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan kepada seluruh pendidik baik guru maupun orangtua agar kembali kepada tugasnya yang mulia. adillah terhadap anak, objektiflah dalam melihat sesuatu pada diri anak, karena baik dan buruknya anak adalah tolok ukur berhasil dan gagalnya orangtua dan guru dalam mendidik anak.


0 komentar:

Posting Komentar