Tampilkan postingan dengan label MIMBAR JUM'AT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MIMBAR JUM'AT. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 September 2015

KHUTBAH IDUL ADHA : MEMBUKTIKAN RASA SYUKUR MELALUI HAJI DAN QURBAN


1.      Pendahuluan
Pada hari ini (10 Zulhijjah 1436 H waktu Indonesia) kurang lebih 1.403.000 umat Islam sedang berada di Arafah (kira-kira pukul 03.30 waktu saudi), dan seterusnya akan menuju Muzdalifah, mempersiapkan kerikil-kerikil untuk melempar setan-setan pada esok harinya di Mina (11, 12 dan 13 Zulhijjah) sebagai bagian dari rangkaian ritual ibadah Haji. Dari 1.403.000 itu, kurang lebih 168.800 orang   yang berasal dari tanah air Repuplik Indonesia[1].
Pada sisi lain kurang lebih 1,9 Miliyar juta jiwa di semua penjuru dunia ini sedang

Jumat, 11 September 2015

Tiga Sifat Yang Menghancurkan Manusia



Tiga Sifat Yang Menghancurkan Manusia
Penulis : Muzanni Lubis, S.Pd.I

Pendahuluan
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang sangat mulia, baik dipandang dari segi bentuk dan rupa (jasmani) maupun dari segi sifat dan watak (rohani). Manusia adalah makhluk yang unik berbeda dari makhluk lain seperti binatang dan malaikat. Sehingga di dalam al-Qur’an Allah memuji manusia (jasmaninya) dengan sebutan ahsani taqwim yaitu sebaik-baik bentuk atau rupa (lihat QS : At-Tin (95) : 4). Pada ayat yang lain Allah juga menegaskan akan kemuliaan manusia itu (rohaninya) sebagimana Firman Allah SWT. “Demi sesungguhnya Kami telah memuliakan anak Adam lebih dari yang lain. Kami telah menjadikan manusia dapat berjalan di darat dan berlayar di laut. Kami berikan rezeki yang baik-baik kepada mereka. Kami melebihkan manusia dari sebagian besar makhluk Kami dengan kelebihan yang jelas.” (QS: Al-Israa’ (17) : 70).
 Kemuliaan yang didapat manusia itu sewaktu-waktu bisa mengalahkan kemulian malaikat, akan tetapi pada saat yang lain kemuliaan manusia itu hilang dan menjadi makhluk yang sangat bejat sehingga lebih bejat dari binatang.

Selasa, 17 April 2012

Poda Na Lima : Pendidikan Budi Pekerti Masyarakat Mandailing

Lain lubuk lain ikannya, lain rumput lain belalangnya, adalah istilah yang mengungkapkan bahwa masing-masing daerang punya adat budayanya sendiri dalam berbagai hal kehidupan. Dalam urusan pendidikan di masyarakat Mandailing terkenal dengan istilah Poda Na Lima (Indonesia : Petuah yang 5). Sejak kecil para orang tua dulu memberikan pendidikan pekerti kepada anak-anaknya melalui poda na lima ini. dan ini dianggap manjur sebagai upaya menjadikan geerasi yang berbudi pekerti luhur.
adapun Poda Na Lima itu ialah :

Senin, 19 Maret 2012

Tanya Jawab Seputar Beriman Kepada Malaikat

Rukun Iman yang kedua adalah Beriman Kepada Malaikat-malaikat Allah.
S : apakah makna Beriman kepada Malaikat
J : Makna beriman kepada malaikat adalah meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa malaikat itu memang ada dan merupakan ciptaan Allah SWT.

S : Siapakah Malaikat itu?
J : Pengertian malaikat adalah : makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya, tidak laki-laki dan tidak perempuan, mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan tidak pernah melakukan maksiat kepada Allah.

S :Berapakah Malaikat yang wajib kita imani?
J : adapun jumlah malaikat yang wajib kita imani adalah 10, yaitu :
  1. Jibril tugasnya menyampaikan wahyu
  2. Mikail tugasnya menurunkan hujan dan mengantarkan rizki
  3. Isrofil tugasnya menuip sangkakala
  4. Izroil tugasnya mencabut nyawa
  5. Rokib tugasnya mencatat amal kebaikan
  6. Atid tugasnya mencatat amal kejahatan
  7. Munkar dan
  8. Nakir tugasnya menanya mayit di dalam kubur
  9. Malik tugasnya penjaga pintu Neraka
  10. Ridwan tugasnya penjaga pintu neraka.
Beriman kepada malaikat Allah sangatlah penting dalam menyempurnakan akidah kita sekali gus untuk mengontrol tingkah laku dan perbuatan kita. apabila kita meyakini bahwa malaikat itu mengawasi kita, maka kita akan hati-hati dalam berbuat, karena apa pun yang telah kita ucapkan dan lakukan akan dicatat oleh malaikat dan akan ditanya di dalam kubur.




Untuk memudahkan kita menghapal lihat dan ikuti video di bawah ini :


Selasa, 06 Maret 2012

Tiga Sifat Yang Menghancurkan Manusia

Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang sangat baik baik dari segi bentuk dan rupa maupun dari segi sifat dan perbuatan. Sehingga di dalam al-Qur’an Allah memuji manusia dengan sebutan ahsani taqwim yaitu sebaik-baik bentuk dan Allah juga memuji manusia dengan mengatakan walaqod karramna bani adam artinya demi sesungguhnya Kami telah memuliakan keturunan Adam yakni manusia. Kemuliaan yang didapat manusia itu sewaktu-waktu bisa mengalahkan mulianya malaikat, akan tetapi tidak jarang juga kemuliaan manusia itu hilang dan menjadi makhluk yang sangat bejat dan sehingga lebih bejat dari binatang.

Sabtu, 11 Februari 2012

Sekolah Namira Peringati Maulid Nabi 1433 H

Kemarin, jum'at 10 Februari 2012 kami mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, seperti tahun-tahun sebelumnya kami mengadakannya di Mushollla Namira sebagai pusat keislaman Sekolah Namira. Acara ini diikuti oleh seluruh siswa PG, TK, SD, SMP dan SMK dan guru serta staf karyawan serta orang tua siswa kalau dijumlahkan kurang lebih 1000 orang.


Acara ini bertujuan selain menyemarakkan acara PHBI juga untuk mengingatkan kembali kepada anak-anak akan perjuangan rasulullah SAW dalam menyebarkan ajaran Islam itu, juga untuk menanamkan ke dalam hati anak-anak akan pentingnya meneladani rasul.

Dalam acara itu juga diadakan pementasan bakat dan seni siswa, seperti pertunjukan doa senandung al-Qur'an oleh anak TK, Lagu Sholawat oleh anak SD yang diiringi dengan musik keyboard, musikalisasi puisi dan volksong dari anak SMP.

terakhir harapan sekolah namira sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Muzanni Lubis,S.Pd.I dalam sambutannya  mewakili Ketua Yayasan Fajar Diinul Islam bahwa kegiatan peringatan maulid Nabi jangan hanya sekedar seremonial belaka akan tetapi bagaimana acara ini bisa memberikan suntikan semangat dan pondasi bagi para pendidik dalam mengajar dan mendidik siswa.







Admin Blog Isu-Isu Pendidikan Umum/Islam
(Muzanni Lubis)
mengucapkan :
Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1433 H, semoga kita mampu meneladani sifat-sifat Nabi.

Jumat, 20 Januari 2012

Uang vs Kejujuran di kalangan Pendidik (Guru)

Sebenarnya saya sudah pernah posting tentang Uang vs Kejujuran sekitar satu tahun yang lalu, pada postingan itu saya gambarkan secara umum di lembaga pendidikan mencakup sekolah, pemerintah, gurunya dan bahkan orang tua. Pada kesempatan ini saya akan membahas kembali tentang Uang vs Kejujuran di kalangan pendidik (guru).

Uang vs Kejujuran, artinya apakah kejujuran yang selalu dipegang teguh mampu bertahan ketika berhadapan dengan uang?, tentu tergantung orangnya. Bagi sebagian orang kejujuran adalah segala-galanya tapi bagi sebagiannya lagi uang bisa mengalahkan segalanya. mungkin bagi kalangan manusia biasa ini 'wajar', akan tetapi bagaimana dengan seorang guru yang mana kejujurannya dikalahkan oleh uang? masih bisa ditolerir tidak?.

Pembaca yang budiman,
Sampai saat ini program sertifikasi guru masih berlanjut, dan bahkan dari yang sudah-sudah tidak sedikit para guru yang notabenenya seorang pendidik dengan sadar melakukan kecurangan-kejurangan, seperti : memalsukan dokumen-dokumen contohnya SK mengajar, sertifikat dll, menyogok. itu semua hanya demi mendapatkan tunjangan sertifikasi (baca = uang) dari pemerintah. Lalu saya bertanya, apakah kita selaku pendidik sudah melupakan tugas dan tanggung jawab utama kita yaitu menanamkan kejujuran pada jiwa-jiwa siswa kita? Lalu, bagaimana kalau kita sendiri belum mampu jujur, maka masih pantaskah kita disebut atau menyandang predikat yang mulia itu (pendidik)?? dan pertanyaan terakhir apakah kita lupa uang yang akan kita terima nantinya menjadi sesuatu yang subhat (mendekati haram) karena didapat dengan sesuatu yang tidak jujur, akan dimakan oleh anak,istri,suami dan keluarga kita.
na'udzubillah..
wallohu a'lam,
semoga Allah merahmati kita, Amin..

Minggu, 18 Desember 2011

Malaikat Yang Terlupakan

Setiap orang ada yang mengawasinya, kemana, dimana, dan apa saja yang ia lakukan akan dicatat oleh pengawasnya tadi. Di dalam Al-Qur'an disebut dengan istilah Kiroman Katibiin, atau yang lebih akrab dikenal dengan malaikat Rokib dan 'Atid. Rokib sebagai pencatat hal-hal yang baik yang kita lakukan, sementara 'Atid sebaliknya mendokumentasikan semua yang berbentuk kesalahan yang kita lakukan, dan nantinya catatan-catatan ini lah yang akan di berikan kembali kepada si empunyanya untuk ditimbang dan akhirnya diberi balasan.

Saat ini, secara tidak langsung banyak di antara kita terkadang melupakan bahwa kita ini dishoot secara non stop, kita melupakan bahwa ada dua malaikat yang stanby tidak pernah luput sedikitpun dari apa yang kita perbuat. sehingga seolah-olah jadilah Rokib dan 'Atid bak dua Malaikat yang terlupakan. Akibatnya adalah kita seakan karyawan yang ditinggalin oleh Bos karena keluar kota alias merasa bebas. sehingga kita merasa apa yang kita lakukan hanya sampai disitu saja dan tidak akan diminta pertanggung jawabannya.

Tentu, situasi ini tidak baik dan tidak ada yang paling dirugikan selain kita sendiri. So, mulai dari sekarang mari kita sadarkan kembali diri kita bahwa kita memang benar-benar di awasi oleh sang pengawas yaitu Malaikat Rokib dan Atid. Orang yang merasa dirinya diawasi pasti lebih berhati-hati dari pada orang yang tidak diawasi.

Wallohu a'lam.

Jumat, 28 Oktober 2011

Peringatan Hari Sumpah Pemuda : Momentum Kebangkitan Pemuda

Bung Karno pernah berkata : "beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia".
Tidak perlu diragukan lagi akan pentingnya kifrah pemuda dalam membangun suatu peradaban negara bahkan dunia. bahkan hidupnya suatu agama pun terletak di tangan pemuda. Maka Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini diharapkan agar setiap bangsa ini menyadari akan pentingnya menciptakan pemuda/i yang berkarakter, berwawasan tinggi, cerdas, bermoral, dan beragama.
Pembentukan pemuda yang handal banyak ditentukan oleh pendidikan, maka harapan dan komitmen bangsa ini seharusnya semua anak dan remaja harus sekolah agar mendapat pendidikan yang memadai. maka konsekuensinya adalah pemerintah harus menyiapkan sarana pendidikan yang murah dan berkualitas bagi bangsanya. Kemudian yang mempengaruhi pembentukan pemuda itu adalah lingkungan, maka tugas kita semualah menciptakan lingkungan yang sebaik-baikya bagi generasi kita sehingga pemuda yang kita harap-harapkan dapat terwujud.

Rejeki yang dipermudah dan Rejeki yang dipersulit

"Adapun orang yang memberi dan bertaqwa. dan mengakui adanya kebaikan. Maka akan Kami mudahkan ia ke jalan yang mudah. Dan adapun orang yang kikir. Dan merasa diri serba cukup. Dan tidak percaya kepada adanya kebaikan. Maka akan Kami mudahkan ia ke jalan yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa" QS. Al-Lail : 5-11.

Ayat di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa orang yang berusaha dalam mencari rejeki ini ada yang dipermudah dan ada pula yang dipersulit. Rejeki yang dipermudah adalah usaha yang mengandung 3 unsur. yaitu :

1. A'tha, memberi. Orang yang berusaha/bekerja gemar memberi dalam artian memberi dengan niat tulus semata mengharap ridha dari Allah SWT.
2. taqwa, yaitu melakukan usaha sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam hukum Islam, tidak menipu dan berlaku curang dan tidak melakukan gal-hal yang dilarang oleh Allah.
3. washoddaqo bil husna, mengakui adanya kebaikan (pahala) yang hakiki.

maka orang yang sering memberi, menjalankan usaha sesuai dengan tuntunan agama Islam, dan mengakui adanya kebaikan yang hakiki maka Allah akan memudahkan usahanya.

Kemudian disebutkan ada orang yang dipersulit usahanya yaitu orang-orang yang :
1. bakhil, kikir atau pelit, ini kebalikan dari a'tha, tidak mau memberi kepada sesama.
2. Wastaghna, merasa kaya, merasa sudah hebat dan akhirnya ia akan sombong dan takabbur.
3. wakazzaba bil husna, dan tidak percaya terhadap kebaikan (pahala) yang hakiki.
Maka orang yang seperti ini akan dipersulit usahanya dan rejekinya akan disempitkan oleh Allah SWT.

Saudaraku pembaca yang budiman,,
Akhir-akhir ini kita disuguhkan oleh isu ancaman ekonomi, kesulitan ekonomi, tapi kita jarang membaca firman-firman Allah tentang apa sebenarnya yang menyebabkan rejeki itu dipersulit. Maka ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa usaha itu mudah atau sulit bisa juga disebabkan perilaku kita dalam berusaha. maka mulai sekarang mari kita benahi diri kita dalam berusaha sesuai dengan anjuran Allah, yaitu dengan rajin memberi, bertaqwa dalam setiap usaha dan pekerjaan, dan meyakini akan adanya kebaikan yang hakiki maka Allah menjamin akan memudahkan rejeki kita. dan tidak ada penjamin yang paling kredibel selain Allah SWT.
semoga tulisan ini dapat menjadi renungan bagi kita dalam melakukan usaha dan pekerjaan kita di hari-hari berikutnya.

Jumat, 14 Oktober 2011

Konsep taubat dalam Islam

"Orang yang baik itu bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, tapi orang yang baik itu adalah orang yang setelah melakukan kesalahan dia menyesal dan bertaubat, taubat bukan hanya sekedar ungkapan di mulut melainkan harus ada action dari dalam hati."

Ungkapan di atas dapatlah menjadi narasi pembuka pembahasan kita pada tulisan sederhana ini. 

Para pembaca yang budiman,,,
Pada dasarnya semua manusia pasti pernah melakukan dosa dan kesalahan bahkan ada ungkapan bahwa manusia itu memang tempatnya salah dan lupa. Akan tetapi sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang bertaubat. Taubat merupakan salah satu perilaku terpuji di dalam ajaran Islam, kenapa? karena perilaku taubat membuat orang lain senang terhadap orang yang melakukan taubat itu.

Apa itu taubat?
Banyak sekali definisi taubat, akan tetapi pada intinya taubat adalah proses menyadari kesalahan dan menyesalinya serta berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya itu, dan dilanjutkan dengan minta ampun kepada Allah SWT.

Kenapa perlu bertaubat?
Saudaraku yang saya kasihi, perlu kita sadari bahwa salah satu syarat agar kita masuk syorga adalah bersihnya diri dari dosa dan kesalahan. oleh karena kita/manusia itu merupakan biangnya dosa maka tidak ada cara lain untuk membersihkan dosa itu kecuali dengan taubat. dan  ini merupakan salah satu bentuk kecintaan Allah Swt kepada hamba-hambanya. Bahkan Allah menyuruh kita agar cepat-cepat melakukan taubat, lihat saja di QS : An-Nur :31).

Bagaimana Caranya bertaubat?
Sebelum saya menjawab cara bertaubat itu, terlebih dahulu kita ketahui pembagian dosa. Dosa dilihat dari objeknya terbagi kepada dua. 1. dosa kepada Allah seperti dosa karena meninggalkan sholat, tidak puasa tanpa sebab, tidak berzakat, tidak mau naik haji dsb. 2. dosa kepada manusia seperti dosa karena memfitnah, mencuri, mengambil hak orang lain, dsb. dan sewaktu saya mengajarkan materi ini di kelas XI-TKJ B SMK Namira bertambah satu lagi yaitu : dosa kepada selain Allah dan manusia, seperti hewan, tumbuhan dan lingkungan.

Dosa kepada Allah cara bertaubatnya cukup tiga syarat utama, yaitu :
1. Mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya;
2. Menyesali kesalahan itu;
3. Berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
akan tetapi dosa kepada manusia cara bertaubatnya tidak cukup dengan tiga syarat di atas melainkan harus ditanbah dua lagi, yaitu :
4. Meminta maaf kepada orang yang disakitinya;
5. Mengembalikan hak orang tersebut.

Maka siapa saja yang telah melakukan tahapan-tahapan di atas insya Allah Allah akan menhapuskan dosanya walaupun dosanya itu seberat bumi.

para pembaca yang saya cintai,,
Pada dasarnya Allah akan mengammpuni dosa siapa pun, sebesar apa pun dosanya, kecuali dua hal :
1. Allah tidak akan mengampuni orang yang melakukan taubat dikala ia sudah gorgoroh (nyawanya sudah berada di tenggorokannya);
2. Allah juga tidak mengampuni dosa orang yang mati dalam kemusyrikan.

Mari berdiskusi...!
1. Ada seorang yang hari ini bertaubat, tapi besok kumat lagi berbuat dosa yang sama, begitulah berulang-ulang, apakah dosanya akan diampuni Allah Swt.??


Jumat, 08 April 2011

Tiga hal yang harus kita siapkan dan perbaiki

ada tiga hal yang harus kita siapkan dan perbaiki sebelum kita dipanggil sang khalik, yaitu :
1. Iman
Iman menempati posisi yang paling utama, karena tanpa iman seseorang itu akan dianggap kafir dan langsung masuk neraka tanpa ada lagi perhisaban. Iman yang kita miliki haruslah utuh dan murni. ini tidak dapat ditawar alias harga mati. oleh karena itu tidak sah dikatakan seorang itu beriman apabila dia hanya mengimani sebagian dari rukun iman yang enam. contoh dia hanya mengimani rukun iman yang pertama sampai yang kelima, sedangkan rukun yang ke enam tidak diyakininya, maka imannya tidak sah. atau imannya terkontaminasi dengan budaya-budaya atau ritual-ritual yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasulnya. contoh ia mengaku beriman kepada Allah tapi masih juga percaya kepada dukun, garis nasib dan tahyul lainnya.

2. Amal/Ibadah
yang kedua yang perlu kita persiapkan dan perbaiki  adalah Amal. Amal/atau ibadah seseorang itu haruslah benar atau sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. dan juga dilaksanakan dengan ikhlas. amal yang tidak didasari dengan ilmu ditolak atau siapa saja yang beramal yang tidak ada suruhannya dari Nabi maka amalannya ditolak.
wama umiru illa liya'budalloha mukhlishina lahuddin.... (al bayyinah :5)
mereka tidak disuruh beribadah kecuali dengan hati yang ikhlas.
Iman dan amal hampir selalu bergandengan dalam al-Qur'an oleh karena itu, iman dan amal merupakan satu paket, semakin benar iman seseorang maka semakin mantaflah amal yang ia perbuat. begitu juga sebaliknya buruknya amal seseorang itu adalah cermin betapa lemahnya iman yang ia miliki.
3. Akhlak
Setelah iman sudah utuh dan murni, kemudian amal/ibadah pun sudah mantap dan sesuai dengan syari'ah Islam maka kita juga mesti memperbaiki akhlak, yaitu akhlak terhadap manusia sekitar kita. Sebagian besar informasi yang disampaikan al-Qur'an kepada kita adalah informasi tentang bagaimana kehidupan bersosial. Dalam sebuah hadis Nabi mengatakan bahwa seseorang itu kelak di hari berhisab dapat menjadi bangkrut apabila akhlaknya terhadap sesama manusia tidak dijaga dengan baik meskipun amalnya banyak.

wallohu a'lam..

Sabtu, 02 April 2011

Stop! Mencari Keslahan Orang Lain, Ayo benahi diri...

"Kandang ni halak nidaho, kandangmu inda nida ho"
"semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak".
Kedua pribahasa itu sangat tepat dilayangkan kepada kita semua pada saat sekarang ini. mulai dari pejabat pemerintah, DPR, dan juga masyarakat bahkan di institusi pendidikan sekali pun. Kita sangat sibuk mencari kelemahan dan kesalahan orang dengan tujuan untuk menjatuhkan mereka. kritik dan saran memang dibutuhkan tapi kritik yang membangun dan dilandasi dengan niat yang tulus, berbeda dengan kritik sekarang ini yang justru terkesan mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang lain.

Celakanya, dikarenakan asyik melihat dan mencari kelemahan orang lain, ia lupa akan membenahi dirinya sendiri. Sekarang ini kita membutuhkan kinerja yang nyata bukan hanya pepesan kosong belaka. Bersaing memang dibutuhkan, tapi bersaing sehat yang dilakukan dengan tindakan-tindakan yang baik, bukankah Al-Qur'an juga mengajarkan : Fastabiqul khoirot ? (berlomba-lomba dalam kebaikan). Semua sibuk menyerang dengan kata-kata, tapi alangkah indahnya kalau kritikan kata-kata bisa dibuktikan dengan tindakan yang nyata.
saat ini kita kehilangan contoh yang nyata, yang ada hanyalah khayalan dan teori belaka. Semua orang mengatakan perlunya perbaikan di semua lini, tapi anehnya tindakan mereka justru bertolak belakang dengan ucapannya.
Apabila ada kritikan pedas, seharusnya tidak dibalas dengan kritikan juga, melainkan kritikan itu dibantah dengan hasil karya yang baik. bukankah lisanul hal lebih fasih dari lisanul maqol?
Allah SWT mengingatkan kita : ya ayyuhalladzina amanu la yaskhor qoumun min qoumin, asa ayyakunu khoirom minhum, wala nisa un min nisa in asa ayyakunna khoirom minhunna...
Hai orang-orang yang beriman janganlah satu kaum menganggap remeh terhadap kaum yang lain, karena bisa saja kaum itu lebih baik dari kaumnya, dan janganlah wanita menganggap remeh terhadap wanita lain, karena bisa jadi wanita itu lebih baik dari dirinya...

maka wahai saudaraku semua...!!
Stop! mencari kesalahan orang lain, ayo benahi diri, tangkal semua serangan busuk dengan kinerja nyata.

Kamis, 31 Maret 2011

Hakikat Kematian

Hidup ini sebenarnya proses perpindahan seseorang dari satu alam ke alam yang lain, maka tidak ada istilah kematian pada hakikatnya yang ada hanya perpindahan alam. dimulai dari alam ruh diwaktu janin berusia lebih urang tiga bulan, maka pindahlah ia ke alam kandungan biasanya  sembilan bulan. setelah selesai di alam kandungan maka ia berpindah ke alam dunia seperti yang kita rasakan sekarang ini. Tidak ada yang tahu berapa lama ia akan berada di alam dunia ini karena itu adalah rahasia Allah.
percaya atau tidak semua akan berpindah ke alam yang ke empat yaitu alam barzakh atau yang sering disebut dengan alam kubur. Barzakh artinya perbatasan yaitu perbatasan antara alam dunia dan alam akhirat. Seseorang yang telah berada di alam barzakh maka ia akan menunggu sampai waktu alam akhirat tiba, dan juga ia tidak akan bisa kembali ke alam dunia. Dan alam yang terakhir adalah alam akhirat, dimana di alam akhirat itu ada namanya mahsyar (berkumpul seluruh manusia mulai dari manusia pertama sampai manusia terakhir), hisab, mizan dan semuanya aka bermuara kepada syurga atau neraka. walal akhiroru khoirullaka minal ula  (dan sungguh akhirat itu lebih baik dari yang pertama, yaitu dunia)
Saya teringat dengan hadits Nabi yang mengatakan : "al-dunya mazro'atul akhirah" yang sekira-kira maksudnya : dunia ini tempat bercocok tanam untuk akhirat.
maka dari hadis di atas jelaslah bagi kita bahwa semua manusia akan kembali kepada Allah. dan yang menjadi permasalahannya adalah apakah kita kembali dalam keadaan baik atau justru kembali dalam keadaan buruk.

Jumat, 04 Maret 2011

AKIBAT SIKAP TIDAK PEDULI ANTAR SASAMA

Alkisah,konon diceritakan di sebuah pinggiran hiduplah seorang petani dengan keluarganya. Dari hasil taninya ia mendapat kehidupan yang berkecukupan karena ia mempunyai sawah yang cukup luas dan binatang ternak. Sampai pada suatu musim, si petani dilanda cobaan berupat gangguan dari tikus. Ternyata para tikus sudah memasuki sawahnya dan juga rumahnya. Sehingga situasi ini membuat hati pak petani cemas dan gelisah, maka dengan istrinya dia berunding mencari solusi terhadap masalah yang sedang mereka hadapi. Maka dari rundingan keduanya diambillah langkah –langkah untuk mengatasi tikus-tikus pengganggu itu. Yaitu dengan membuat perangkat tikus. Keesokan harinya si petani pergi ke pasar untuk membeli perangkap tikus dan akemudian memasangnya di beberapa tempat yang strategis yang sering dilalui oleh kawanan tikus.
Ketika mentari sudah mulai condong ke arah barat menandakan hari sudah sore, seperti biasanya si tikus kembali ke rumah si petani, alangkah terkejutnya dia bercampur gelisah melihat dimana-mana terpasang perangkap tikus. Melihat keadaan gawat ini lalu sang tikus pun keluar dari rumah sambil mencari orang tempat untuk mengadu. Maka dalam perjalanannya dia menjumpai ayam, seraya tikus berkata : “ Ayam.. di rumah si petani ada perangkap tikus, dan itu sangat membahayakan kami”. Lalu si ayam menjawab dengan cueknya : “ itu kan derita Lo, ga ada kaitannya sama gue”. Dengan hati sedih si tikus melanjutkan perjalanannya, lalu dia bertemu dengan Kambing, tikus pun mengadu : “ kambing, di dalam rumah petani ada perangkap tikus”. Dengan nada yang sama dengan ayam si kambing pun membalas :” EGP”. Dengan hati yang bertambah sedih si tikus tidak berputus asa dia kembali melanjutkan perjalanannya. Lalu di tengah perjalanan dia berjumpa dengan Lembu. Si lembu pun sama seperti si ayam dan si kambing ga mau tau tentang masalah yang menimpa si tikus.
Singkat cerita, waktu tengah malam ketika si istri terbangun dari tidurnya ia langsung berjalan menuju dapur dalam suasana yang gelap tidak ada lampu ia lalu memeriksa perangkap tikus yang telah mereka letakkan di bawah lemari. Dengan rasa bangga dan yakin  tikus sudah masuk keperangkap yang mereka pasang, si sistri pun  mengambil perangkap itu dan  tanpa melihat sebelumnya. Namun rasa bangga tadi berubah rasa takut yang luar biasa ketita ia mengangkat perangkap tikus tadi, ternyata bukannya tikus yang terperangkap malah ular yang tertangkap. Seketika itu juga sang ular mematok tangan si istri petani.
Akibat gigitan ular itu si istri petani pun jatuh sakit. Ketika sakit layaknya orang orang ia jug a tidak enak makan, oleh sang suami mengambil tindakan untuk memberikan makanan kesukaan orang sakit yaitu bubur ayam. Dengan berat hati si petani pun memotong ayamnya demi kesembuhan istri tercinta. Dan setelah itu, si istri tidak langsung pulih dan masih perlu perawatan, oleh karena si petani adalah orang yang sosial, maka masyarakat sekitar pun berdatangan ke rumahnya untuk menjenguk istrinya yang sedang di landa sakit. Hari berganti hari orang yang menjenguk bertambah banyak sehingga situasi ini membuat perasaan si petani tidak enak kalau tidak menjamu tamu-tamunya itu. Maka denganberat hati si petani kembali mengorbankan binatang peliharaannya yaitu kambing. Setelah beberapa hari setelah itu si istri pun akhirnya sembuh. Si petani sangat senang melihat kesembuhan istrinya sehingga ia memutuskan untuk menjamu orang sekampung sebagai ungkapan rasa syukurnya atas kesembuhan istrinya itu. Dan kali ini lembu yang menjadi korban untuk dijadikan hidangan jamuan orang-orang sekampungnya.
Lalu apa pelajaran yang bisa kita ambil?
Saudaraku,
Cerita di atas adalah gambaran kehidupan bermasyarakat yang tidak ada kepedulian satu sama lain. Mereka hanya peduli terhadap kepentingan mereka sendiri tanpa melihat kesusahan orang lain. Coba kita perhatikan satu sisi orang-orang berlomba  membangun rumah gedung dengan segala jenis dan tipe, disisi lain ada orang-orang yang tidak punya rumah dan penuh penderitaan. Akan tetapi ini seolah-olah tidak terlihat oleh orang-orang yang membangun gedung tadi.
Saat ini manusia tidak lagi peduli terhadap saudaranya, bukankah nabi Muhammad SAW mengatakan :”tidak beriman seseorang di antara kamu sampai ia mampu mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.  Nabi juga menjelaskan seharusnya anta sesama muslim bagaikan satu badan mana kala satu anggota tubuh sakit maka seluruh anggota tubuh dapat merasakan kesakitan itu. Bukankah sesama muslim itu bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain?
Saudaraku yang baik hati..
Keselamatan orang-orang kaya ada di tangan orang-orang miskin,  kewajiban orang kaya adalah menyantuni orang miskin, begitu juga orang miskin mempunyai hak atas harta orang kaya sehingga apabila haknya tidak ia dapat maka ia bisa menuntut kepada hakim yang Maha Adil yaitu Alah SWT. Dan tentu ini akan mengganjal perjalanan si orang kaya ke surga kelak.
Dalam hadis yang lain Nabi menjelaskan bahwa kehidupan bermasyarakat itu bagaikan sebuah kapal yang sedang berlayar di tengah lautan dan membawa penumpang yang berbeda-beda. Ada kelas ekonomi, eksekutif, vip, bahkan vvip. Orang yang berada di kelas vip dan vvip dengan mudah mereka bisa mendapatkan apa saja yang mereka inginkan, mereka tinggal menyuruh pelayan. Lantas bagaimana dengan orang yang berada di kelas ekonomi yang berada dibagian bawah kapal, mereka hidup dengan kesusahan serta kekurangan. Manakala mereka perlu mereka harus naik ke atas untuk mengambil air. Akan tetapi bagaimana kalau mereka tidak mau naik keatas mereka cukup melobangi dinding kapal dan tentu air akan masuk?. Tapi mereka tidak melakukan itu, karena mereka sadar kalau itu mereka perbuat bukan hanya mereka saja yang akan tenggelam tapi orang-orang yang berada di kelas vvip pun akan ikut tenggelam juga.
Saudaraku,,
Inilah suatu ibarat yang menggambarkan bahwa tindakan kita bukan hanya berimbas kepada kita sendiri melainkan juga kepada orang lain di sekitar kita. Oleh karena itu mereka yang sedang berada di kelas vvip saat ini berilah kemudahan bagi orang-orang yang berada di kelas ekonomi sebelum orang-orang yang berada di kelas ekonomi berbuat sesuatu yang dapat merugikan semua orang seperti melobangi kapal tadi. Jangan sampai kita menjadi ayam yang sebelumnya berkata masa bodoh dan akhirnya menjadi korban karena tidak peduli terhadap saudaranya tikus, atau kambing maupun lembu yang sebelumnya juga berucap EGP dan juga jatuh korban karena sikap ketidak pedulilian terhadap sesamanya
Wallohu a’lam

Senin, 21 Februari 2011

Pesan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Sekolah Namira

Tanggal 12 Rabiul Awwal sebagaimana sudah diketahui adalah hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dimana pada tanggal itu umat Islam hampir di segala penjuru memperingati hari tersebut yang bertujuan untuk mengenang kembali kehidupan Nabi yang sarat dengan tauladan yang patut dicontoh oleh setiap umat. Di sekolah Namira juga tidak tinggal diam, sebagai sekolah yang bercita-cita untuk menciptakan pendidikan yang Islami juga ikut serta dalam memperingati maulid nabi Muhammad SAW yang mana bertujuan untuk mengenalkan kepada para siswa sebagai generasi bangsa tentang sosok Nabi Muhammad SAW sebagai contoh tauladan di setiap aspek kehidupan.

Pada tahun ini Tema maulid Nabi adalah : Melalui peringatan maulid Nabi Muhammad SAW kita ciptakan generasi yang jujur, amanah, tabligh, fathonah serta menjadi rahmatanlilalamin. dari tema di atas diharapkan seluruh pendidik baik guru maupun orangtua memantapkan kembali tujuan pendidikan dan pembelajaran yang telah disusunnya yaitu menciptakan generasi yang mampu meneladani seluruh ajaran Nabi Muhammad SAW melalui Agama Islam.

Sementara itu, al-Ustadz H. R. M. Syafe'i, SH, M.Hum atau lebih dikenal dengan sebutan Romo yang berperan sebagai penceramah pada peringatan tersebut menyampaikan beberapa hal yang sangat berkaitan dengan semangat Islam bagi generasi muda, yaitu antara lain :
  1. Ada tiga hal yang membuat Islam itu tidak baik, yaitu : Godaan syetan, sikap pemalas, dan 'jorok'.
  2. Selanjutnya Romo juga menyampaikan bahwa untuk mencapai kesuksesan itu rahasianya adalah : tidak meninggalkan sholat, tidak durhaka pada orangtua, setia kawan.
dari ceramah Romo tersebut diharapkan mampu memberikan suntikan semangat kepada para siswa agar lebih giat lagi belajar serta tidak meninggalkan kewajibannya sebagai hamba Allah.

wallo a'lam.
Muzanni Lubis mengucapkan : Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, semoga kita mampu meneladani ajarannya secara kaffah.

Jumat, 21 Januari 2011

Menjadi Manusia Terbaik

Semua orang tanpa terkecuali menginginkan dirinya menjadi yang terbaik dari yang lainnya, dan juga ingin mendapat yang terbaik untuk dirinya. Allah Swt menjelaskan dalam surat Ali Imran ayat 112 bahwa ada tiga unsur yang harus dipenuhi untuk menjadi manusia terbaik.
" Kuntum khoira ummatin ukhrijat linnaasi ta'muruuna bil ma'ruf watnhauna anil munkar watu'minuuna billah"
(kamu adalah ummat terbaik yang diutus kepada manusia, yang menyuruh kepada kebaikan, mencegah dari kemungkaran dan beriman kepada Allah).
Dari ayat di atas dapat kita simpulkan bahwa ada tiga unsur yang harus dipenuhi untuk menjadi manusia terbaik, yaitu :

1. Ta'muruuna bil ma'ruuf. yaitu menyuruh kepada kebaikan. 
Tugas pertama kita adalah menyuruh manusia kepada kebaikan secara kontiniu dengan segala macam cara, baik dengan lisan, tulisan, maupun dengan perbuatan, tentu sebelum menyuruh orang kita harus terlebih dahulu mengerjakan kebaikan itu. orang tidak akan mau diajak untuk bersedekah manakala kita sendiri dikenal sebagai orang yang kikir. oleh karena itu etika dalam menyuruh orang berbuat baik, kita harus memperbaiki diri kita sendiri dahulu. di dalam ayat lain Allah berfirman : "yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum wa ahliikum naroo..." (hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...). nah sekali lagi bahwa sebelum menyuruh orang kepada kebaikan terlebih dahulu kita pastikan bahwa kita sudah melakukan kebaikan itu.

2. Tanhauna 'anil munkar. yaitu mencegah atu melarang dari kemungkaran. 
Tugas kedua ini jauh lebih sulit dari yang pertama, oleh karena itu nilainya pun lebih tinggi. Bisa jadi Polisi yang mati-matian memberantas kejahatan, seperti perjudian, minum khomar, prostitusi dan sebagainya lebih mulia dibandingkan dengan seorang ustad yang hanya berceramah dibelakang podium. Penjahat tidak akan marah apabila kita ajak kepada kebaikan, namun, dia akan murka apabila kita mencoba melarang atau mencegah dia dari perbuatan kejahatannya. maka oleh karena itu tugas yang kedua ini nilainya lebih tinggi dari tugas yang pertama dikarenakan ini mengandung risiko yang lebih berat. dalam mencegah kemungkaran Nabi menjelaskan : man ro a minkum munkaron falyughoyyir biyadihi, fainlam yastati' fabilisanih, wainlam yastati' pabilisanih wainlam yastati' fabiqolbih, wa dzaalika adh'aful iimaan" (siapa saja yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia berantas degan tangganya/kekuasaannya, apabila tidak mampu dengan lisan/menasehatinya apabila tidak mampu dengan hatinya/membeci kemungkaran itu, dan inilah selemah-lemah iman.
dari hadis di atas nampaklah bagi kita bahwa tindakan melawan kemungkaran itu ada tiga :
  1. Tindakan melalui kekuasaan. seperti menutup fasilitas-fasilitas kejahatan itu sendiri, dan tentu ini hanya mampu dilaksanakan oleh pihak yang berwenang seperti pemerintah, penegak hukum dll. begitu juga orang tua terhadap anaknya berhak memukulnya apabila dianggap sudah patut dipukul.
  2. Tindakan melalui peringatan lisan. seperti memberi nasehat kepada sipelaku, unjuk rasa dsb, tentu ini bisa dilakukan oleh siapa pun.
  3. Tindakan dengan hati yaitu dengan membenci perbuatannya. dan inilah selemah-lemah iman. maka apabila kita sudah tidak benci kepada kemunkaran itu berarti kita sudah tidak memiliki iman lagi.
3. Tu'minuuna billaah. yaitu beriman kepada Allah. 
Tugas yang ketiga Adalah : dalam menjalankan amar ma;ruuf nahi munkar haruslah didasari dengan niat yang tulus karena keimanan kepada Allah. Ustad yang sering menasehati ummat manusia, berceramah menyeru kepada kebaikan tidak akan mendapat nilai apa pun manakala dia melakukukannya bukan didasarkan Iman kepada Allah. Begitu juga seorang polisi atau pejabat pemberantas kejahatan tidak akan ada nilainya di mata Allah apabila mereka melakukannya hanya sekedar dikarenakan tuntutan jabatannya tidak dikarenakan keimanan kepada Allah Swt. oleh karena itu, tugas yang ketiga inilah yang paling sulit dari ketiga tugas itu. karena disini kita melawan syetan dan hawa nafsu yang tidak bisa kita lihat, yang setiap saat menyerang kita dengan segala kelicikannya.

Sebagai kesimpulan : janganlah kita sesekali mengkalaim diri kita yang paling baik manakala tugas yang tiga itu belum kita lakukan secara berkesinambungan.

wallohu a'lam

oleh :
Muzanni Lubis, S.Pd.I

Kamis, 26 November 2009

BERKURBAN SEBAGAI TANDA BERSYUKUR

BERKURBAN SEBAGAI TANDA BERSYUKUR
(sekilas pesan moral)
Oleh: Muzanni Lubis

Bismillahirrohmanirrohim
Dalam Situasi apa pun marilah kita senantiasa mengekspresikan rasa syukur kita kepada Allah Swt, atas segala anugerah dan karunia yang diberikannya kepada kita. Di antara anugerah tersebut adalah kesehatan dan kesempatan serta keimanan sehingga kita dapat memenuhi panggilan Allah Swt ini yaitu melaksanakan sholat Idul Adha.
Sholawat beriring salam kita hadiahkan kepada Nabi kita Muhammad Saw yang telah berjuang mati-matian membela agama Allah, sehingga sampai kepada kita seperti saat sekarang ini. Maka pantaslah kita sampaikan sholawat kepada beliau dengan lafaz: “Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad” semoga kita mendapat syafaatnya kelak. Amin ya rabbal ‘alamin..
Selanjutnya, Khatib tidak lupa mengajak kita semua agar memperbaharui dan meningkatkan mutu dan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt dengan jalan melaksanakan segala yang diperintahkannya dan meninggalkan semua yang dilarangnya.
Saudara-saudara Jama’ah Sholat ‘Idul Adha yang dirahmati Allah..
Untuk mengawali khutbah ini Khatib terlebih dahulu membacakan Firman Allah dalam alQur’an surat Al-kautsar (108) ayat:1 yang berbunyi:
أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ إِنَّا
Artinya :”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”
Ayat ini diawali dengan kata inna yang berarti sesungguhnya kami. Kata “sesunguhnya” biasa digunakan terhadap orang yang menolak atau mungkin meragukan berita yang hendak disampaikan itu. Kalimat selanjutnya adalah Kemudian apabila kita lihat lagi kalimat sesudahnya yaitu a’thoina yag berarti kami berikan/ anugerahkan kepadamu yaitu Al-Kautsar. Apakah itu Al-Kautsar? sebagian Ulama mengartikan al-Kautsar adalah sebuah telaga yang disiapkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad dan orang-orang yang beriman. Sementara sebagian ulama mengartikan Al-kautsar itu adalah “nikmat/kebaikan yang banyak” sesuai dengan asal kalimatnya yaitu katsuro menjadi kautsaro (Ismul mubalaghoh) timbangan af’ala
Di dalam ayat yang lain Allah menjelaskan nikmat yang banyak itu dengan sebuah perumpamaan yaitu jangankan untuk mengganti maupun membayar nikmat tersebut menghitungnya saja kita tak kan mampu. Begitulah sangkin banyaknya nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt kepada kita.
Kemudian kalau kita lihat kata yang digunakan adalah ‘a’thoina mengandung arti sesuatu yang terus menerus. Berarti nikmat yang banyak itu diberikan oleh Allah kepada kita secara terus menerus.
Kaum muslimin rahimakumulloh…
Khatib membagi nikmat itu kepada dua kategori:
1. nikmat yang berupa materil/ benda, seperti harta yang melimpah, uang yang banyak, mobil mewah dan rumah yang indah dll.

Kebanyakan manusia memandang nikmat itu hanya sekedar berupa benda seperti di atas, sehingga apabila ia tidak mendapat atau memiliki harta, uang, kendaraan dsb ia menganggap ia tidak mendapat nikmat dari Allah swt. Tentu ini sangat picik dan cenderung berpikir secara sempit dan primitive.

2. nikmat yang berupa non materil, sepeerti kesehatan, kesempatan, keimanan, dsb.

Betapa banyak orang yang rela habis-habisan demi kesehatan, akan tetapi Alhamdulillah kita tak perlu mengeluarkan apa-apa dikarenakan kita sehat, panca indera dan seluruh organ tubuh kita masih berfungsi. Mari kita renungkan kalau sekiranya Allah mencabut nikmat pendengaran kita, saya yakin kita akan rela menempuh usaha apa pun asal pendengaran kita pulih kembali walau pun itu akan menghabiskan harta benda yang kita miliki, begitu juga dengan pernafasan coba bayangkan kalau sekiranya Allah meminta bayar atas setiap udara yang kita hirup, berapa banyak yang harus kita bayar?? Tentu kita tak akan mampu. Maka dengan begitu kalau kita piker sejenak dan kita renungkan sesaat sungguh nyatalah bahwa nikmat yang ini jauh lebih mahal dari pada nikmat yang berupa materil. Oleh karenanya tidak ada lagi alasan kita mengatakan bahwa kita tidak mendapat apa-apa dari Allah Swt.

Kaum muslimin rahimakumulloh…
Sebagai orang yang menerima nikmat secara gratis lantas apa yang harus kita perbuat?? Jawabnya adalah tidak lain dari bersyukur, hanya bersyukurlah yang bisa kita lakukan, akan tetapi pada kenyataannya sungguh sangat sedikit orang yang bersyukur.
Apa itu bersykur? Dan bagaimana caranya??
Bersyukur bukanlah sekedar dimulut akan tetapi bersyukur haruslah dibuktikan dengan tindakan dan perbuatan. Allah swt menjelaskan salah satu usaha untuk mensykuri nikmat yang tak terhingga itu adalah dengan mendirikan Sholat dan berkurban. Allah berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya : Maka dirikanlah sholat karena tuhanmu dan berkurbanlah. (QS: Al-Kautsar (108) : 2
1. Sholat baik sholat yang wajib maupun sholat yang sunnat
Dalam hal ini sholat merupakan implementasi rasa syukur seseorang kepada Tuhannya, ungkapan rasa syukur seseorang itu dapat diukur melalui pelaksanaan sholat yang ia lakukan. Salah satunya adalah sholat di awal waktu. Akan tetapi ada juga ulama pengikut Ibn Abbas menafsirkan perintah sholli mengandung makna perintah untuk berdo’a danberibadah secara umum sebagaimana pengertiannya secara umum dengan alasan karena Allah selalu memerintahkan aqimus sholah untuk perintah sholat. Maka perintah sholli disini bukanlah hanya sekedar sholat melainkan juga ibadah-ibadah lain yang harus dilaksanakan dengan rasa ikhlas kepada Allah Swt.
2. Berkurban
Ibadah berkurban merupakan cerminan rasa syukur seseorang kepada tuhannya. Berkurban adalah memotong hewan kurban kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada pakir miskin. Ibadah berkurban secara sekilas sangat mudah dilakukan oleh orang-orang kaya dan sulit dilaksanakan oleh orang-orang miskin, akan tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu, betapa banyak orang yang kaya tapi tak mampu berkurban, kita mampu membeli rumah dengan puluhan bahkan ratusan juta tapi tidak mampu (tepatnya tidak mau) melaksanakan kurban, berapa banyak orang yang mampu mengkredit kendaraan dengan ratusan ribu bahkan jutaan per bulannya akan tetapi tidak berkurban. Begitu juga sebaliknya, berapa banyak orang yang berpenghasilan biasa saja tapi mampu melaksanakan kurban. Maka dari itu jelaslah ternyata kita ini belumlah dapat dikatakan sebagai orang-orang yang bersyukur terhadap nikmat –nikamat Allah Swt. Sebagaimana yang kita rasakan sekarang ini.

Paling tidak ada dua hal yang melandasi kenapa seseorang itu mampu berkurban, yaitu:
1. Keimanan, keimanan yang kita miliki akan sangat mempengaruhi pengamalan ibadah kita, begitu juga ibadah berkurban yang paling mempengaruhinya adalah kadar keimanan yang kita miliki. Keimanan yang kuat akan menimbulkan niat yang kuat pula.
2. Kemampuan, yang mempengaruhi seseorang melakukan ibadah berkurban adalah kemampuan secara financial.
Oleh karena itu, orang yang mampu melaksanakan ibadah kurban berarti dua syarat di atas telah terpenuhi. Begitu juga sebaliknya orang yang belum melaksanakan kurban berarti dua hal di atas belum dimiliki secara utuh, baik itu keimanan atau kemampuan. Sekarang mari kita Tanya diri kita manakah dari dua syarat di atas yang belum kita miliki?? Apakah dikarenakan keimanan?? Atau dikarenakan kita belum mampu?? Hanya kita yang tahu jawabannya.

Bapak-bapak, Ibu-Ibu, Saudara-saudara jama’ah sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Akhirnya khatib mengajak kita semua marilah kita pergunakan sisa-sisa umur kita ini dalam rangka mengabdi kepada Allah salah satunya dengan mensyukuri ni’mat-ni’mat-Nya yang sedang kita rasakan ini. Berbahagialah orang yang mampu melaksanakan ibadah kurban pada tahun ini, semoga apa yang kita kurbankan diterima oleh Allah Swt, amin.. kemudian untuk kita yang belum mampu melaksanakan Ibadah kurban pada tahun ini mari kita tekadkan niat agar tahun depan kita mampu melakasanakannya Allah berfirman :

Artinya : “ Siapa-siapa yang bersungguh-sungguh di jalan Kami niscaya akan kami mudah kan jalannya”

Wallohu a’lam.

Senin, 06 April 2009

METODE PENDIDIKAN YANG DITERAPKAN RASULULLAH SAW.

A. Pendahuluan
Dalam pandangan Islam Pendidikan adalah proses ‘memanusiakan manusia’, atau sering juga disebutkan untuk mencetak manusia paripurna (insane kamil). Dikatakan memanusiakan manusia karena pada dasarnya manusia tidak akan bisa mencapai jati dirinya menjadi manusia seutuhnya yang mampu melakukan peran, tugas serta tanggung jawabnya di atas bumi ini tanpa proses pendidikan.
Di Dalam QS. Al-Zariyat (51) : 56 disebutkan bahwa salah satu tujuan manusia dan jin diciptakan adalah untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Ini berarti di dalam ajaran Islam semua aktivitas manusia pada akhirnya haruslah merupakan bentuk pengabdian diri kepada Allah SWT. Sementara tugas menyelenggarakan pendidikan tersebut adalah tugas setiap umat Islam, bukan hanya pemerinta, ustadz, keluarga dan sebagainya melainkan tugas kita semua.
Setelah melihat tujuan pendidikan Islam tersebut perlu adanya kerja keras dan persiapan yang baik dan strategi yang jitu agar tujuan tersebut benar-benar tercapai.
Pada masa Rasulullah SAW, ada seseorang yang mendatangi Nabi dan ia berkata :”…ya Rasulallah!, saya telah berzina, hukumlah saya..”
Lalu Rasullah dengan bijaksana menjawab : “ Pulanglah, barangkali kamu sedang tidak sadar apa yang telah kamu ucapkan”.
Keesokan harinya orang tersebut datang lagi dengan membawa berita yang sama dan Rasul pun memberi jawaban yang sama. Dan ini berulang sampai tiga kali.
Setelah ketiga kalinya akhirnya orang tersebut mendapat hukuman rajam.
Dari cerita tersebut timbul pertanyaan di benak kita, bagaimana metode yang diterapkan Rasulullah SAW dalam mendidik ummat sehingga ummat tersebut mau dan rela mengakui kesalahannya walaupun itu akan menghilangkan nyawanya sekalipun. Ini justru bertolak belakang dengan keadaan sekarang kebanyakan manusia selalu menutup-nutupi kesalahannya. Orang yang sudah jelas-jelas berbuat kesalahan malah bersikeras mencari bantuan agar ia tidak menjalani hukuman. Anak sering berbohong kepada orang tuanya, pemerintah tidak jarang membohongi rakyat dan lain sebagainya. Ini adalah salah satu indicator pendidikan kita belum berhasil.

B. Metode Nabi dalam mendidik Umat.
Dalam QS. Al-Baqara (2) : 151 dan al-Jumu’ah : 2. Allah menjelaskan tentang metode pendidikan Islam. Kalau kita cermati ternyata ada tiga fase yang diterapkan Rasulullah SAW dalam melaksanakan pendidikan itu.
yatluu ‘alaikum ayaatunaa yaitu proses menyampaikan ayat-ayat Allah, agar tujuan pendidikan Islam itu tercapai dengan baik hendaknya para guru/ orang tua tidak bosan menyampaikan pesan-pesan Allah kepaa siswanya. Ayat-ayat Allah maksudnya adalah isi/ makana dari ayat tsb, baik berupa nasehat, larangan dan perintah. Selain itu Allah menyebutkan dalam ayat lain bahwa dengan sering-sering mengingatnya yaitu salah satunya membaca ayat-ayatnya akan menenangkan jiwa.
wayuzakkikum yaitu mentazkiyah (pensucian). Dari sini dapat kita pahami bahwa sebelum menyampaikan pelajaran kepada siswa ternyata yang lebih dahulu dilakukan guru/ orang tua adalah proses mentazkiyah siswa. adapaun yang harus ditazkiyah adalah :
Jasad/ fisik yaitu guru/ orang tua harus memastikan bahwa pakaian yang dipakai oleh siswa/ anak, makanan yang dikonsumsinya serta seluruh fasilitas yang dipakainya tersebut bukanlah dari hasil pekerjaan yang haram. Karena anak yang dibesarkan dengan hasil yang haram hatinya akan tertutup dan sulit meenrima cahaya ilmu yang berkah.
Hati, setelah dipastikan jasad/ fisik siswa/ anak itu sudah bersih dan suci maka tahap berikutnya adalah pensucian hati, yaitu usaha menghilangkan sifat-sifat buruk seperti sombong, malas, benci, angkuh dsb, dan menggantinya dengan sifat-sifat mulia seperti penyabar, kasih sayang, lemah lembut, santun. Karena bagaimana mungkin hati yang kotor dihinggapi oleh ilmu yang bersih.
Akal, yaitu membersihkan akal anak didik sehingga pada akhirnya ia tidak akan pernah berpikir untuk menipu orang lain, menyusahkan orang lain, menjerumuskan orang lain dan lain sebagainya.
Perlu disadari tugas mensucikan (tazkiyah) ini tidak semudah membalik telapak tangan. Yang pertama yang harus dilakukan oleh orang tua/ guru sebelum mentazkiyah anak didik adalah mentazkiyah dirinya sendiri, karena bagaimana mungkin sesuatu yang kotor dapat membersihkan yang kotor. Bagaimana mungkin orang tua pembohong menyuruh anaknya agar senantiasa berbuat jujur, seorang guru menyuruh siswanya agar berkasih sayang sementara dirinya tidak mencerminkan sifat kasih sayang.
Ta’lim, setelah selesai mentazkiah siswa, pada tahap berikutnya adalah ta’lim yaitu penyampaian ilmu pengetahuan (kurikulum pendidikan islam).
Di dalam ayat ini kurikulum pendidikan Islam itu ada dua yaitu :
al-Kitab, yaitu seluruh isi dari alqur’an
Al-Hikmah, yaitu sesuatu hal yang ada di balik ilmu pengetahuan tersebut.

Akhirnya mari kita Tanya diri kita apakah kita sudah mentazkiyah diri sebelum mentazkiyah anak didik…???
Bagi mahasiswa/ siswa apakah sudah mentazkiyah diri sebelum menerima pelajaran…?

Wallahu a’lam bishshawab…