Tampilkan postingan dengan label Orang tua Bijaksana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orang tua Bijaksana. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Maret 2020

Guru Juga Manusia

Mengapa perlu saya menulis tema ini? karena, pada akhir-akhir ini banyak di kalangan masyarakat
terutama orang tua menganggap guru adalah makhluk yang menyerupai malaikat yang sempurna, bahkan ada yang menganggap guru seperti robot. guru seolah dianggap makhluk super penyabar yang tidak boleh marah, sakit hati dan lain sebagainya.

Keadaan ini pada dasarnya tidaklah salah, tapi akan menjadi bermasalah ketika diterapkan pada praktiknya. maka muncullah, anggapan sebagian pihak guru tidak boleh marah. ketika ada anak yang salah maka guru diminta bersabar. ketika ada murid yang melawan atau merendahkan gurunya, guru diminta tidak boleh emosi. tentu hal itu, sangat sulit dilakukan dan hampir tidak mungkin. karena guru adalah manusia biasa, memiliki perasaan dan emosi. 

ini harus disadari oleh semua stake holder pendidikan, guru juga membutuhkan penghormatan, penghargaan, rasa sayang, perhatian dan lain sebagainya. dan hal ini sering terlupakan oleh kita semua.

Medan, 21 Maret 2020
M23





Sabtu, 12 Oktober 2013

Guru Sebagai Pengendali Kelas

Pengelolaan kelas pada dasarnya bersumber dari guru itu sendiri, kelas akan damai dan tenang bilamana guru mampu mengendalikan begitu juga kelas akan kacau balau jika guru kurang cakap dalam pengelolaan kelas. Keterampilan dalam mengelola kelas akan sangat mempengaruhi kelancaran dan keberhasilan belajar. karena aktivitas belajar tidak akan berjalan dengan baik bilamana suasana kelas tidak kondusif.

Guru yang baik adalah guru yang mampu mengendalikan kelas, ibarat sutradara dalam sebuah film, begitulah peran seorang guru dalam mengendalikan aktivitas pembelajaran sesuai dengan skenario yang sudah tertuang dalam RPP. akan tetapi hal itu tidak gampang, selalu mengalami kendala dan hambatan, oleh karena itulah seorang guru harus kreatif, jeli, cerdas, bijaksana dan satu lagi PERCAYA DIRI.

Senin, 30 April 2012

Syarat Masuk SD Harus Punya Ijazah TK?

Anggapan yang beredar di kalangan masyarakat bahwa salah satu syarat masuk SD adalah harus melampirkan ijazah TK, dan anggapan ini diperkuat dengan peraturan yang berlaku di sekolah-sekolah khususnya sekolah swasta. Tapi, yang menjadi pokok pertanyaannya adalah apakah memang benar salah satu syarat masuh SD harum memiliki ijazah TK?.

Sebelum saya menjawab, alangkah lebih baiknya saya paparkan terlebih dahulu hal-hal yang mendasari mengapa anggapan ini terus meluas di kalangan masyarakat :

Rabu, 18 April 2012

Pembelajaran Interaktif

Dalam era moderenisasi seperti sekarang ini di mana teknologi semakin canggih tidak bisa tidak, kita harus ikut di dalamnya. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, moderenisasi 'memaksa' kita agar merubah pola pembelajaran yang selama ini diperaktikkan, salah satunya dari pembelajaran satu arah menjadi pembelajaran dua arah atau disebut dengan pembelajaran interaktif.

Selasa, 17 April 2012

Poda Na Lima : Pendidikan Budi Pekerti Masyarakat Mandailing

Lain lubuk lain ikannya, lain rumput lain belalangnya, adalah istilah yang mengungkapkan bahwa masing-masing daerang punya adat budayanya sendiri dalam berbagai hal kehidupan. Dalam urusan pendidikan di masyarakat Mandailing terkenal dengan istilah Poda Na Lima (Indonesia : Petuah yang 5). Sejak kecil para orang tua dulu memberikan pendidikan pekerti kepada anak-anaknya melalui poda na lima ini. dan ini dianggap manjur sebagai upaya menjadikan geerasi yang berbudi pekerti luhur.
adapun Poda Na Lima itu ialah :

Jumat, 09 Maret 2012

Belajar Berbagi Sejak Dini

Rasa kepdulian dan berbagi bersama haruslah dilatih sejak usia dini. oleh karena itu ini merupakan tugas pendidik di rumah tangga (orang tua) dan di sekolah (guru).
Kepekaan hati menjadi tujuan akhir kenapa rasa berbagi ini harus dilatih. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengajarkan kepada anak akan berbagi kepada sesama, antara lain :
seperti apabila pada jam makan guru bisa saja menyuruh anak untuk bertukar makanan, atau menyuruh anak memberi sebagian makanannya kepada kawannya yang tidak memiliki makanan seperti yang ia miliki.
Menganjurkan mengisi tanumg infak/sumbangan untuk dibagi kepada orang yang membutuhkan.
Melatih berbagi akan sangat berguna bagi perkembangan afektif anak didik. sehingga nantinya apabila ia sudah dewasa dia akan menjadi pribadi yang sosialis yang disayangi oleh orang sekitar.